Ternyata Hoka Hoka Bento 100% Milik Orang Indonesia Toh….

Salah Satu Gerai Hoka Hoka Bento

Salah Satu Gerai Hoka Hoka Bento

Profil & Sejarah Hoka Hoka Bento
1985

Pada tanggal 18 April 1985, Hoka Hoka Bento pertama kali didirikan dibawah naungan PT. Eka Bogainti. Dengan restoran  pertama berlokasi di Kebun Kacang,  Jakarta. Hoka Hoka Bento menyajikan makanan jepang yang sehat, variatif, higienis, cepat saji dengan harga terjangkau serta suasana yang nyaman. Hal ini menjadikan Hoka Hoka Bento sebagai restoran dengan konsep “Japanese Fast Food” terbesar di Indonesia.

1990

Hoka Hoka Bento mengembangkan sayap ke Bandung dan sampai saat ini telah ada 12 store yang tersebar di seluruh kota Bandung.

2005

Hoka Hoka Bento membuka store pertama di Surabaya. Seiring dengan perjalanan waktu hingga saat ini sudah ada 10 store di Surabaya dan mulai tanggal 18 Juli 2008 Hoka Hoka Bento pertama dibuka di kota Malang.

2008

Tepatnya sampai dengan Juli 2008, selama kurun waktu 23 tahun, Hoka Hoka Bento telah tumbuh dan berkembang dengan menghadirkan 97 store yang tersebar di Jabodetabek, Bandung, Cilegon, Surabaya dan Malang. Kini, resto cepat saji yang membeli hak nama dari Jepang itu mempunyai 99 gerai dengan omzet sekitar Rp. 13,85 miliar /tahun.

Hendra sebagai pemilik PT Eka Bogainti tertarik mengembangkan resto cepat saji ala Jepang karena pada 1985 konsep itu belum ada di Indonesia. Ia pun melakukan studi banding ke Jepang dan kemudian membeli izin untuk menggunakan merek dan technical assistance Hoka Hoka Bento di Indonesia. Eka Bogainti memiliki penuh hak cipta atas merek merek Hoka Hoka Bento. Sementara itu, usaha serupa dengan merek sama yang ada di Jepang sudah tidak ada lagi.

Awalnya, Hoka Hoka Bento berbisnis makanan take away (pesan ambil/ bawa pulang). Konsep take away kemudian diubah menjadi fast food (cepat saji), mengadopsi tren cara makan yang praktis dan higienis ala Jepang.

Saat ini, Hoka Hoka Bento ditangani generasi kedua, anak dari Hendra Arifin yakni Paulus Arifin yang menjadi direktur operasional PT Eka Bogainti.

Menurut Paulus, dampak krisis global membuat pengunjung resto sedikit berkurang sehingga ia menerapkan strategi khusus untuk menarik minat konsumen dengan berbagai menu spesial. Selain itu, efisiensi terus dilakukan tanpa harus melakukan perampingan tenaga kerja. Kini, Hoka Hoka Bento mempekerjakan sekitar 4.000 tenaga kerja.

Pengalaman saat krisis moneter 1998 menjadi pelajaran berharga bagi Hoka Hoka Bento sehingga tetap bertumbuh rata-rata 5-7% per tahun. “Tahun 2009, kami menargetkan pertumbuhan penjualan sekitar 10%, memang agak sulit tetapi kalau berusaha keras pasti bisa.

Meskipun 2009 dipenuhi ketidakpastian ekonomi, Hoka Hoka Bento berencana menambah satu gerai. “Untuk menggenapi jadi 100 gerai,” ungkap Hendra. Saat ini, 99 gerai Hoka Hoka Bento tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang (Jabodetabek), Bandung, Surabaya, dan Malang.

Ini salah satu gerai Hok Ben di Nagoya (tidak ada kesamaan logo dengan hok ben di Indonesia)

Ini salah satu gerai Hok Ben di Nagoya (tidak ada kesamaan logo dengan hok ben di Indonesia)

Paulus memaparkan, untuk membuka gerai baru seluas 150-200 meter persegi di mal kawasan Sudirman, Jakarta, dibutuhkan investasi hampir Rp 1 miliar. Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga melakukan revitalisasi fisik gerai serta memperkuat manajemen sumber daya manusia.

Tidak Lirik Waralaba

Hendra menambahkan, Hoka Hoka Bento tidak berencana berekspansi ke sistem waralaba. Upaya mempertahankan kualitas layanan menjadi salah satu alasan untuk tidak merambah ke bisnis waralaba. “Memang menggiurkan tapi kami tidak ingin serakah. Selain itu, bisnis makanan tergantung pada kualitas layanan.

Untuk meningkatkan pelanggan, Hoka Hoka Bento mengembangkan bisnis pesan antar. Kontribusi penjualan antar-pesan kini mencapai 30-40% dari total penjualan. “Untuk layanan ini, konsumen dikenakan biaya Rp 5.000 per antar dan tidak ada batas minimum order.

Berdasarkan survei terhadap 2.029 koresponden di Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Semarang, dan Makassar, sebanyak 894 koresponden menyatakan pernah makan di luar rumah, sedangkan sisanya belum pernah. Sebanyak 63% mengatakan lebih memilih restoran dengan menu lokal.

Sementara itu, survei on line terhadap 510 konsumen di kota yang sama menunjukkan, hingga 59% responden lebih memilih restoran dengan masakan lokal. Sementara itu, sebanyak 17% memilih masakan Tiongkok sebagai alternatif dan 12% memilih masakan Jepang. Sedangkan restoran yang menghidangkan masakan Italia (empat persen), masakan Amerika (dua persen), Perancis (satu persen), dan masakan India (satu persen).

“Hal itu menjadi berita dan peluang bagus bagi restoran lokal. Sedangkan restoran dengan merek internasional memiliki tantangan untuk masuk ke pasar dalam negeri.

Bangga Donk Kita Hoka Hoka Bento Ternyata Jadi Merek Lokal Indonesia, semoga bisa mendunia seperti lainnya.

indocashregister.com/…/ternyata-hokahokabento-100-milik-orang-indonesia-toh/ –

http://www.hokahokabento.co.id

 

Pembahasan

Hoka-Hoka Bento meggunakan knowledge managemet dengan baik. Dari pertama cuma untuk pesan antar sekarang mempunyai 100 gerai hoka-hoka bento. Ditambah lagi untuk tempat delivery order bisa langsung hanya menelepon  ke : 500-505 dengan biaya RP. 7.500,- pada akhir tahun 2009 dan tidak ada batas pemesanan. Layanan SDM dari setiap hoka-hoka bento sudah sangat baik dan memuaskan. Harga terjangkau bagi semua konsumen yang membeli.

Posted in Case Knowledge Management | Leave a comment

Perpecahan antara McDonald’s dengan Toni d Jacks

McDonald’s dan Bambang Rachmadi Gagal Berdamai


Foto: McDonald’s
Konflik antara pengusaha Bambang Rachmadi dan McDonald’s Corp nampaknya masih panjang. Kedua pihak gagal mencapai kesepakatan dalam pertemuan ini. Pertemuan tersebut berjalan alot sehingga tidak tercapai kata sepakat yang menguntungkan kedua pihak.

“Karena McD Corp selalu menempatkan diri–nya sebagai pemegang saham mayoritas dan mengabaikan pemegang saham minoritas. Dan nyata sekali bahwa McD Corp hanya memikirkan diri-nya sendiri.

Ketidaksepakatan ini jelas menambah berlarut-larutnya konflik antara Bambang dengan McD Corp.

Seperti diketahui, Bambang menggugat McDonald’s atas penjualan 97 restoran McDonald’s yang sebelumnya dimiliki PT Bina Nusa Rama (BNR) ke Grup Sosro. McDonald’s memiliki 90 persen saham di BNR dan Bambang memiliki 10 persen sisanya. Bambang merasa keputusan penjualan aset tersebut dilakukan tanpa mempedulikan persetujuan darinya selaku pemegang saham minoritas.

Bambang sebagai pemegang saham minoritas McD Indonesia merasa tidak mendapat peran apapun dalam setiap pengambilan keputusan, bahwa BR dijuluki sebagai Bapak McD Indonesia.

Karena tidak adanya perdamaian antara PT. Bina Nusa Rama (BNR) ke  Group Sosro  dengan Bambang maka gerai MCD berubah jadi ToniJacks

Gerai McDonald’s berubah nama menjadi ToniJack’s Indonesia. Perubahan nama itu dilakukan manajemen mula hari kamis tanggal 01-Okt-2009 dini hari.

Tema TonJack’s adalah makan cepat saji dan bajak laut dengan ornamen toko warna hijau muda dan oranye muda. Hal ini terlihat dari logo yang berada tepat diatas ToniJack’s yaitu gambar kepala bajak laut lengkap dengan topi dan menutup mata kirinya.

Menu makan yang ditawarkan tidak jauh berbeda dengan konsep toko McDonald’s.  Menurut salah satu pelayan toko ToniJack’s jenis produk yang ditawarkan berbeda dengan sebelumnya, masih ddominasi oleh burger dan ayam goreng.

Pada hari pertama buka, sudah terlihat pengunjung yang ingin merasakan makanan yang disajikan restoran yang sebelumnya bernama McDonald itu. Sudah ada orang merayakan hari ultah tahun  diToniJack. Berhubung hari pertama dibuka, kemasan makanan dan minuman yang disiapkan masih polos, tanpa logo dan nama toko tersebut.

ToniJack’s dengan tagli “Better Than That One” itu juga tengah menyiapkan penampilkan live band agar bisa menarik lebih banyak pengunjung. Perubahan nama itu akhirnya dilakukan setelah pencabutan izin waralaba McDonald’s oleh International Development Services (IDS) yang berafiliasi dengan Mcd Corp. atas izin yang dimikili Bambang Rachmadi.

Ada 13 gerai McD milik Bambang Rachmadi antara lain berlokasi di Sarinah(Thamrin), Melawai Plaza, Blok M Plaza, Arion, Kelapa Gading, Sunter, Bandung Indah Plaza, Tunjungan Plaza, Bandara Soekarno-Hatta, ITC, Mangga Dua, Citra Land, Gajah Mada Plaza, dan Kebon Jeruk menjadi ToniJack’s.

Sumber :

http://www.detikfinance.com › Ekonomi

Pembahasan :

Perpecahaan McDonalds dengan Toni d Jaks dikarenakan tidak ada rapat pemegang saham atas penjualan saham ke perusahaan lain. Tidak ada penerapan Knowledge Management yang baik  dari  pertama  dalam mengembangan McDonalds.  Karena McDonald’s masih mempertahankan cita rasa McDonald’s yang ala barat. Mengadakan survei makanan ke customer dan iklan menu makanan yang menjadi unggulannya. Memberikan pelayanan pesan antar ke customer yang ingin memesan makanan dirumah tanpa harus keluar rumah.

Posted in Case Knowledge Management | 2 Comments

Perusahaan patungan Sony Corp. dengan LM Ericsson

Sony Ericsson, adalah usaha patungan 50:50 dari Sony Corporation dan Telefonaktiebolaget LM Ericsson, yang didirikan pada bulan Oktober 2001.

Visi kami adalah menjadi merek hiburan komunikasi yang UTAMA. Kami menginspirasikan kepada semua orang untuk melakukan lebih dari sekadar berkomunikasi. Kami memungkinkan setiap orang untuk menciptakan dan berpartisipasi dalam pengalaman hiburan. Pengalaman yang berbaur menjadi satu, antara komunikasi dan hiburan.

Bagian ruang pers Sony Ericsson memuat siaran pers terbaru, arsip siaran pers dan perpustakaan foto yang menampilkan gambar telepon selular serta aksesori.

Sumber :

http://www.sony-ericsson.com

 

Pembahasan :

Perusahaan  patungan Sony Corporation dan Telefonaktiebolaget LM Ericsson dengan mengembangan sesuatu yang baru dalam persaingan teknologi. Sony terkenal peralatan elektornik dari televisi, DVD player, camera digital sampai notebook. Sedangkan Ericson terkenal dengan alat komunikasi Handphone. Pada saat itu lagi buming  Handphone berkamera dari VGA sampai sekarang kamera yang 8 Megapixel autofocus. Perusahaan patungan tersebut menjadi Sony Ericsson untuk produksi handphone. Selalu mengeluarkan produk-produk sesuai keinginan konsumen.

 

Posted in Case Knowledge Management | 1 Comment